Rabu, 15 April 2009

Marketing Communication

Integrated Marketing Communication (IMC) /
Komunikasi Pemasaran Terpadu
Sekarang ini yang menjadi tantangan utama komunikasi di dalam promosi adalah bagaimana menemukan cara-cara baru untuk menarik perhatian orang dan menanamkan brand ke dalam benak setiap orang. Untuk itu disinilah peran Humas dan pemasaran dari mulut ke mulut ( word of mouth ) semakin berperan di dalam bauran pemasaran dalam rangka membangun dan memelihara brand.
Integrated Marketing Communication (IMC) atau Komunikasi Pemasaran Terpadu merupakan suatu proses bisnis yang menggunakan perencanaan, eksekusi, koordinasi dan pengukuran dari semua aktivitas komunikasi yang ditujukan kepada konsumen, karyawan dan pihak-pihak terkait lainnya.
Tujuan IMC adalah untuk mendapatkan tingkat return (ROI) yang terbaik dan merek yang kuat dan bernilai tinggi.
Adapun hal-hal yang terkait dengan IMC antara lain :
a. IMC adalah suatu proses busnis, dimana IMC merupakan komunikasi yang melibatkan banyak divisi didalam menjalankan bisnis.
b. IMC mengenal berbagai macam audience.
Sekarang ini banyak sekolah bisnis yang mengajarkan komunikasi pemasaran dengan menggunakan buku pelajaran yang berorientasi kepada IMC. Adapun tujuannya yaitu :
1. Untuk menyiapkan para mahasiswa agar mereka dapat memahami peran dan berbagai alat bantu komunikasi.
2. Untuk menegaskan bahwa brand perusahaan dan pesan customer harus terus-menerus dikomunikasikan melalui seluruh media. Sehingga jika perusahaan ingin agar kualitasnya yang tinggi dikenal, perusahaan tersebut harus menghasilkan kualitas yang tinggi dan mengkomunikasikan kualitas yang tinggi tersebut ke dalam semua pesannya.

Minggu, 08 Februari 2009

Merintis Usaha Rumah Makan


Beberapa aspek penting bagi pebisnis untuk membuka usaha di bidang kuliner :
  1. Aspek lokasi, apakah terletak di lokasi yang strategis, mudah diakses,mudah dicari, berada di pinggir jalan raya yang arus lalu lintasnya padat, dan memiliki tempat parkir yang luas,memadai, dan aman.
  2. Aspek kenyamanan, apakah dilengkapi dengan dekorasi interior yang moderen dengan penyejuk ruangan, kebersihan toilet dan menggunakan pelayanan moderen tersedianya musholla karena mayoritas masyarakat kita beragama muslim, Serta bila perlu ditambah dengan fasilitas seperti hotspot atau wireless internet.
  3. Aspek harga, apakah produk yang dijual relatif terjangkau dan sesuai dengan value yang kita berikan kepada konsumen kita.
  4. Aspek kualitas produk, dalam hal ini berhubungan kualitas rasa makanan yang kita tawarkan. Alangkah baiknya mengenai cita rasa makanan memiliki ciri khas dan perbedaan dengan cita rasa makanan yang lain sejenis, disamping itu kelengkapan menu juga menjadi faktor penentu kesuksesan.
  5. Aspek Pelayanan, pelayanan yang ramah dan suasana rumah makan yang nyaman akan membuat orang betah makan di tempat kita dan akan kembali




Sabtu, 03 Januari 2009

Human Resource Community

Pentingnya penggunaan ROTI pasca kegiatan training di masa krisis global yang sedang melanda Indonesia.

    Seiring dengan perkembangan bisnis dan persaingan usaha yang semakin meningkat, peran Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimiliki suatu perusahaan semakin meningkat. Situasi seperti ini menuntut setiap perusahaan untuk bersikap lebih tanggap dan proaktif dalam melakukan pengembangan terhadap perusahaan maupun SDM-nya. Semua orang pasti paham bahwa Sumber Daya Manusia (SDM) mempunyai kedudukan yang strategis di dalam perusahaan. Meski telah diketahui bahwa SDM merupakan suatu asset strategis, tetapi belum tampak investasi yang nyata dalam pengembangan kapabilitasnya. Kondisi seperti ini membuat perusahaan mulai menyadari betapa pentingnya pengembangan SDM yang berkelanjutan melalui training-training yang didesain sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan perusahaan baik jangka pendek maupun jangka panjang.

    Pengadaan training di dalam perusahaan tentunya melibatkan pengeluaran uang, waktu, dan tenaga yang besar. Seperti pada aset perusahaan yang lain, agar dapat mengelola aset SDM dengan baik, harus paham dengan benar bagaimana cara menilainya. Andaikan aset tersebut berupa mesin, kita harus mengetahui berapa jumlahnya dan seberapa besar outputnya. Demikian pula dengan SDM, permasalahannya adalah dalam mengukur kemampuan SDM tidaklah mudah. Kesulitan dan kompleksitas pengukuran SDM makin memuncak ketika pengelolaan SDM sudah dianggap sebagai bagian dari strategi perusahaan, dan kinerjanya diukur berdasarkan seberapa besar dapat memberi kontribusi dalam implementasi strategi. Untuk itu, perlu dilakukan suatu evaluasi untuk mengukur sejauhmana efektifitas dari training tersebut terhadap tujuan yang ingin dicapai.

    Berdasarkan hasil dari penelitian Raymond A.Noe (2000) mengemukakan bahwa pengaruh dari suatu training / pelatihan terhadap individu hanya 13 %. Mengenai mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan perilaku pekerja di dalam dunia kerja berdasarkan penelitian oleh Raymond A. Noe (2000) antara lain :

- Iklim Pekerjaan / working climate (43%)

- Desain pelatihan / training design (23%)

- Karakteristik peserta training / trainee characteristic (21%)

- Pengaruh Pelatihan / training delivery (13%).

    Krisis ekonomi global sangat membawa dampak buruk ke seluruh Negara. Bagi negara Indonesia, krisis tersebut membuat jatuhnya bursa saham dan nilai tukar rupiah merosost. Meskipun badai krisis global telah menghantam perekonomian kita serta perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia, tetapi jangan sampai membuat perusahaan-perusahaan di Indonesia untuk sedikit mengabaikan dan mengurangi fokus pada peningkatan keahlian dan kemampuan SDM melalui training pelatihan dan pengembangan. training yang diadakan harus dipilih selektif dan dengan metode yang di desain secara tepat, sehingga benar-benar dapat memberi nilai tambah bagi karyawan dan perusahaan.

Perusahaan perlu mengetahui sejauhmana kontribusi training tersebut terhadap perubahan atau peningkatan kinerja karyawan secara keseluruhan. Untuk itu, perlu dilakukan suatu evaluasi untuk mengukur sejauhmana efektifitas dari training tersebut terhadap tujuan yang ingin dicapai. Harus diketahui hasilnya, dampaknya, dan tingkat pengembaliannya atau return on training investment-nya.

    Untuk mengetahui seberapa besar hasil, dampak, dan tingkat pengembalian investasi pada training, dimana jumlah keseluruhan keuntungan secara finansial yang diperoleh perusahaan dari program training dikurangi dengan keseluruhan biaya investasi yang dikeluarkan untuk membangun, menghasilkan dan melaksanakan program training serta kembali dibagi dengan biaya keseluruhan investasi yang dikeluarkan untuk membangun, menghasilkan dan melaksanakan progrm pelatihan. maka dilakukan suatu formulasi pengukuran yang disebut dengan Return On Training Investment (ROTI). Evaluasi training dapat dilakukan dalam lima tahapan dengan penjelasan sebagai berikut :

• Level 1 : Reaction Evaluasi training pada tingkat ini bertujuan untuk mengukur bagaimana reaksi kepuasan peserta training terhadap program training yang diikuti berdasarkan persepsi dan apa yang dirasakan oleh peserta. Hal-hal yang diukur adalah materi training, fasilitator, dan fasilitas training.hal-hal yang dievaluasi pada level ini antara lain mengenai materi training, instruktur / trainer, fasilitas training yang tersedia, waktu penyelenggaraan, dan metode yang digunakan. Pengukuran pada level ini dapat dilakukan dilakukan melalui pengumpulan data kuantitatif dan pengumpulan data kualitatif. Pengumpulan data kuantitatif dilakukan melalui survey dengan menggunakan form kuesioner dengan menggunakan skala pengukuran interval (skala linkert). Sedangkan pengumpulan data kualitatif dapat dilakukan dengan metode pengumpulan data wawancara atau Focus Group Discussion (FGD) dengan cara mengambil beberapa sampling dari para peserta training. Adapun kriteria penilaian setelah pemrosesan data kuantitatif selesai dilakukan : • Nilai 4,01 s/d 5, artinya kepuasan karyawan sangat tinggi terhadap training yang diselenggarakan. • Nilai 3,01 s/d 4, artinya kepuasan karyawan tinggi terhadap training yang diselenggarakan. • Nilai 2,01 s/d 3, artinya kepuasan karyawan biasa saja terhadap training yang diselenggarakan. • Nilai 1,01 s/d 2, artinya kepuasan karyawan rendah terhadap training yang diselenggarakan. • Nilai 0 s/d 1, artinya kepuasan karyawan sangat rendah terhadap training yang diselenggarakan. Adapun beberapa manfaat yang dapat diperoleh dalam melakukan evaluasi pada level ini, yaitu : - Memberikan umpan balik (feedback) yang berguna bagi penyempurnaan penyelenggaraan training berikutnya. - Jika peserta tidak ditanya reaksinya maka dengan kata lain pihak penyelenggara akan merasa paling tahu dan sudah merasa benar dalam menyelenggarakan training. - Memberikan informasi kuantitatif yang dapat menjadi masukan bagi para manajer ataupun pihak lain yang berkepentingan dengan program training tersebut. - Memberikan informasi yang berharga bagi trainer dalam meningkatkan kinerjanya pada program training berikutnya.

• Level 2 : Learning Mengukur seberapa jauh dampak dari program training yang diikuti peserta dalam hal peningkatan pengetahuan, keahlian dan perilaku mengenai suatu hal yang dipelajari dalam training. Dsts evaluasi diperoleh dengan membandingkan hasil dari pengukuran sebelum training (pre-test) dan sesudah training (post-test). Data yang dikumpulkan pada level ini berupa data kuantitatif dengan metode pengumpulan data melalui survey dengan formal tes , yang terdiri atas : 1. Tes tertulis Merupakan pengukuran dengan menggunakan tes tertulis sebelum training (pre-test) dan sesudah training (post-test), dimana tes yang diberikan berupa pertanyaan seputar training yang diikuti. Adapun bentuk pertanyaan yang diajukan dalam bentuk essai ataupun multiple choice. 2. Tes keterampilan / keahlian Tes ini dilakukan apabila materi training yang diberikan berhubungan langsung dengan perangkat kerja. Pada tes ini dapat dilihat langsung bagaimana peserat training menggunakan perangkat kerja yang ada. 3. Tes sikap dan perilaku. Tes ini digunakan dalam rangka mengukur soft skill seseorang, misalnya : bagaimana cara mengelola orang, bagaimana cara melakukan negosiasi, bagaimana teamwork dll.

• Level 3 : Application / Behavior Evaluasi training dilakukan untuk mengetahui apakah ketiga domain kompetensi (keahlian / keterampilan, pengetahuan dan sikap) yang baru sebagai dampak dari program training dapat dimanfaatkan dan diaplikasikan di dalam perilaku kerja sehari-hari dan berpengaruh secara signifikan terhadap pencapaian sasaran kerja individu dan organisasi. Adapun data historis kinerja / kompetensi peserta training sebelum dan sesudah training dilaksanakan dapat diperoleh dari hasil performance appraisal ataupun competencies assesment. Evaluasi pada level ini tidak cukup hanya sekedar mengukur perubahan yang terjadi pada behavior peserta pasca training, namun lebih jauh lagi perlu di evaluasi pula sejauhmana perubahan yang terjadi dapat diterapkan dalam praktek kerja sehari-hari. Kadangkala perubahan yang dialami peserta pasca pelatihan berupa peningkatan keahlian / keterampilan, pengetahuan dan sikap pada kenyataannya tidak membawa pengaruh besar ketika dicoba diterapkan dalam dunia pekerjaan. Hal ini disebabkan adanya faktor-faktor non training yang menjadi penghambat seperti sistemm operasional yang kuurang handal, lingkungan kerja yang kurang kondusif, dan sebagainya.

• Level 4 : Result / Business Impact Mengukur keberhasilan program training dari sudut pandang bisnis dan organisasi. Bagaimana hasil training berpengaruh terhadap peningkatan kinerja eks peserta training, unit kerja, maupun perusahaan secara keseluruhan. Adapun alat ukur yang biasa dipakai adalah kuantitas, kualitas, waktu, habit, cost dan customer satisfaction yang ditingkatkan / diturunkan peserta training.

• Level 5 : ROTI ( Return On Training Investment ) Pengukuran ROTI ( Return On Training Investment ) dilakukan untuk mengetahui pengembalian investasi yang telah dikeluarkan untuk training dengan formulasi perhitungan sebagai berikut :

ROTI = Net Benefits of Training / Costs of Training x 100 %.

Atau

ROTI (%) = Total Keuntungan – Total Biaya : Total Biaya x 100.


Small Medium Enterprise (SME)

Memaksimalkan Peran BDS / BDSP
Dalam Pemberdayaan UKM

    Jasa Pengembangan Bisnis atau Business Development Service ( BDS ) merupakan semua jasa yang bersifat non-keuangan untuk pengembangan bisnis yang ditawarkan baik secara formal maupun informal oleh pihak eksternal dan dikelola secara komersial. BDS ada yang bernaung secara individu maupun dalam lembaga / perusahaan. Adapun BDS yang bernaung di bawah lembaga / organisasi ini dinamakan Business Development Service - Provider ( BDSP ). Hingga di penghujung tahun 2007, jumlah Usaha Kecil Menengah ( UKM ) yang terdapat di Indonesia sekitar 48,9 juta, dengan total jumlah tenaga kerja mencapai 85 juta orang. Sedangkan di Jawa Timur sendiri, jumlah UKM mencapai 4,2 juta dengan menyerap tenaga kerja sekitar 56,19 juta pekerja dengan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto ( PDB ) mencapai 54,03 % atau Rp 1,47 triliun. Jika kita telaah angka tersebut, maka sekitar 50 % perekonomian kita disokong oleh UKM. Sehingga kian hari, peran UKM kita terhadap perekonomian semakin besar dan berpengaruh.
    Tetapi hingga saat ini, UKM kita belum dapat menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Hal ini dikarenakan tidak semua UKM memiliki kapasitas dan kapabilitas sebagai UKM yang berkualitas. Dimana pada kenyataannya para UKM tersebut memiliki berbagai kendala dan permasalahan yang terdiri dari tingkat mikro dan tingkat makro. Tingkat mikro / internal sendiri meliputi :
- Lemahnya informasi dan jaringan yang dimiliki.
- Rendahnya keterampilan Soft skill dan Hard skill, serta rendahnya kualitas proses dan output..
- Kurangnya jiwa enterpreneur
- Terbatasnya sumber daya usaha seperti : bahan baku, finansial, Sumber Daya Manusia (SDM) dan penguasaan teknologi.
Sedangkan masalah pada tingkat makro / eksternal sendiri meliputi :
- Akses pada lembaga keuangan
- Akses pada pasokan bahan baku, informasi dan teknologi.
- Tingkat persaingan.
- Kepastian hukum dan suasana lingkungan.
- Biaya bunga.
     Setelah kita perhatikan lagi tentang perkembangan UKM. Dapat kita lihat bahwa pergerakan sektor riil masih sangat lamban, fungsi intermediasi perbankan masih lamban dan produktifitas UKM yang masih rendah. Maka dapat kita lihat bahwa kondisi ekonomi makro sangat kondusif untuk mendorong pertumbuhan sektor riil. Dimana dalam hal ini ada peluang dalam pemberdayaan sektor UKM. Dari sinilah pentingnya peran dari BDS-BDS sebagai konsultan atau pendamping UKM yang professional dalam pemberdayaan UKM khususnya di Jatim.
Ruang lingkup kerja dari BDS sangat luas, dimana para BDS ini sudah memiliki kemampuan dalam pengetahuan, pengalaman serta jaringan kerja. Dimana kemampuan dan pengetahuan para BDS tersebut meliputi :
- Pemahaman sektor UKM,
- Manajemen keuangan dan administrasi UKM,
- Industri perbankan, kemampuan konsultasi,
- Etika bisnis dan profesi,
- Perencanaan usaha,
- Akuntansi dan audit, serta
- Pelatihan dan pengembangan keterampilan

    Sedangkan beberapa bidang yang dapat dibantu oleh BDS dalam suatu pengembangan bisnis kepada para UKM, antara lain :
1. Pemasaran
BDS dapat membantu para UKM dalam membuat perencanaan dan strategi pemasaran dan teknis pelaksanaannya, seperti riset pasar, penentuan target pasar, promosi, penetapan harga, distribusi dan lain-lain.
2. Keuangan dan Akuntansi.
BDS dapat membuat sistem keuangan yang memudahkan pencatatan dan juga pengontrolan baik secara manual maupun computerized. Dalam hal ini pelaku bisnis dapat melakukan outsourcing pekerjaan pencatatan dan pemeriksaan ( Audit ) pada BDS yang ahli dalam bidang ini.
3. Teknologi Informasi ( TI )
Di bidang ini, pelaku bisnis dapat menggunakan jasa BDS yang ahli dalam Teknologi Informasi ( TI ) jika pelaku bisnis ingin memanfaatkan kemajuan TI dalam berbisnis. Misalkan aplikasi Customer Relationship Marketing ( CRM ) atau yang paling sederhana adalah membuat website untuk promosi bisnis.
4. Sumber Daya Manusia
BDS dapat membantu UKM dalam hal yang terkait dengan Manajemen Perubahan ( Change Management ), Kebijakan Sumber Daya manusia, penentuan Kompensasi dan manfaat, Pengembangan karir dan evaluasi kinerja.
5. Produksi dan Operasi
Dalam hal ini BDS dapat membantu UKM mengenai Manajemen Proyek, Desain Produk, Teknologi Proses, Pengendalian dan manajemen mutu, serta Perencanaan dan kapasitas Produksi.
. Semua itulah yang berkaitan dengan profesi konsultan UKM, yang dapat kiranya memberikan layanan dan pendampingan yang profesional kepada UKM. Sehingga dapat digunakan sebagai salah satu sarana dalam pemberdayaan UKM di masa mendatang.

Jumat, 02 Januari 2009

Management Community

Restrukturisasi Organisasi dalam rangka menangani masalah
yang terkait dengan Resource Base


   Organisasi merupakan suatu sistem yang kesatuan yang terdiri atas beberapa bidang (keuangan, operasi, sumber daya manusia, pemasaran dan lain-lain), dengan menjalankantugas dan tanggung jawab sesuai dengan strategi yang telah dirumuskan perusahaan, untuk mencapai keuangan yang optimal.
   Menurut Rhenald Kasali seorang pakar Manajemen dari Universitas Indonesia (dalam Marketing Edisi oktober 2008) mengatakan bahwa perkembangan ilmu marketing sekarang ada pada Resource Base. Dimana yang bermasalah bukan market base, tetapi resource base. Apabila dibuat dalam satu atau dua buah kata konsep Marketing sekarang adalah Marketing change. Adapun yang perlu ditata kembali adalah manusia dan organisasi didalam mengepung pasar. Sehingga adapun salah satu langkah yang perlu diambil didalam menangani masalah yang terkait dengan resource base adalah dengan melakukan Restrukturisasi Organisasi.
Restrukturisasi dapat diartikan sebagai suatu perombakan mendasar terhadap seluruh mata rantai bisnis perusahaan dengan tujuan agar terciptanya daya saing dan value dari perusahaan. Selain itu, restrukturisasi juga dilakukan dalam rangka memperbaiki dan memaksimalkan kinerja. Restrukturisasi perusahaan merupakan salah satu bentuk perubahan yang dilakukan perusahaan untuk beradaptasi dengan perubahan lingkungan bisnis.
Restrukturisasi organisasi dan manajemen dilakukan pada perusahaan yang sedang “under forming”, dengan maksud untuk memperoleh suatu kepemimpinan baru yang lebih memiliki visi. Beberapa strategi yang dapat dipakai untuk melakukan nrestrukturisasi antara lain : corporate culture restructuring, downsizing, delayering, dan BPR (Business Process Reengineering).
    Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa perubahan yang dilakukan perusahaan malah membawa dampak negatif baik kepada individu maupun organisasi. Perubahan organisasional (merger, downsizing, dan reorganisasi) dianggap karyawan sebagai sumber ancaman bagi mereka, karyawan mempersepsikan bahwa perubahan akan berdampak langsung terhadap eksistensi mereka di organisasi dengan indikasi pemutusan hubungan kerja kepada mereka serbagai konsekuensi logis perubahan organisasional tersebut. Penelitian dari Kristanto (2000), mengungkapkan bahwa dampak negatif dari perubahan organisasional adalah memburuknya kinerja karyawan dimana pada akhirnya akan memperburuk kinerja perusahaan, seperti penurunan produktivitas karyawan dan tingkat absensi yang tinggi. Akan teapi, perubahan organisasional pun dapat berdampak positif kepada perubahan, salah satunya dan yang paling penting adalah perbaikan kinerja perusahaan.
     Restrukturisasi yang dilakukan perusahaan berasal dari perubahan kebijaksanaan, praktek, dan struktur kapital perusahaan. Sehingga restrukturisasi sangat dapat berdampak langsung kepada pemilik, jajaran manajemen, dan karyawan. Serta restrukturisasi pun juga membawa dampak pada stakeholder lain seperti supplier, konsumen, kompetitor dan masyarakat. Sehingga unsur dari pemilik, jajaran manajemen dan karyawan harus diperhatikan dalam pelaksanaan dan implementasi restrukturisasi. Pelaksanaan implementasi harus memperoleh dukungan serta komitmen dari stakeholder, paling tidak adanya tingkat resistensi yang minimal dari karyawan. Meskipun restrukturisasi akan membawa dampak kepada perusahaan dalam melakukan perubahan secara cepat, akan tetapi dapat beresiko bagi perusahaan.