Pentingnya penggunaan ROTI pasca kegiatan training di masa krisis global yang sedang melanda Indonesia.
Seiring dengan perkembangan bisnis dan persaingan usaha yang semakin meningkat, peran Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimiliki suatu perusahaan semakin meningkat. Situasi seperti ini menuntut setiap perusahaan untuk bersikap lebih tanggap dan proaktif dalam melakukan pengembangan terhadap perusahaan maupun SDM-nya. Semua orang pasti paham bahwa Sumber Daya Manusia (SDM) mempunyai kedudukan yang strategis di dalam perusahaan. Meski telah diketahui bahwa SDM merupakan suatu asset strategis, tetapi belum tampak investasi yang nyata dalam pengembangan kapabilitasnya. Kondisi seperti ini membuat perusahaan mulai menyadari betapa pentingnya pengembangan SDM yang berkelanjutan melalui training-training yang didesain sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan perusahaan baik jangka pendek maupun jangka panjang.
Pengadaan training di dalam perusahaan tentunya melibatkan pengeluaran uang, waktu, dan tenaga yang besar. Seperti pada aset perusahaan yang lain, agar dapat mengelola aset SDM dengan baik, harus paham dengan benar bagaimana cara menilainya. Andaikan aset tersebut berupa mesin, kita harus mengetahui berapa jumlahnya dan seberapa besar outputnya. Demikian pula dengan SDM, permasalahannya adalah dalam mengukur kemampuan SDM tidaklah mudah. Kesulitan dan kompleksitas pengukuran SDM makin memuncak ketika pengelolaan SDM sudah dianggap sebagai bagian dari strategi perusahaan, dan kinerjanya diukur berdasarkan seberapa besar dapat memberi kontribusi dalam implementasi strategi. Untuk itu, perlu dilakukan suatu evaluasi untuk mengukur sejauhmana efektifitas dari training tersebut terhadap tujuan yang ingin dicapai.
Berdasarkan hasil dari penelitian Raymond A.Noe (2000) mengemukakan bahwa pengaruh dari suatu training / pelatihan terhadap individu hanya 13 %. Mengenai mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan perilaku pekerja di dalam dunia kerja berdasarkan penelitian oleh Raymond A. Noe (2000) antara lain :
- Iklim Pekerjaan / working climate (43%)
- Desain pelatihan / training design (23%)
- Karakteristik peserta training / trainee characteristic (21%)
- Pengaruh Pelatihan / training delivery (13%).
Krisis ekonomi global sangat membawa dampak buruk ke seluruh Negara. Bagi negara Indonesia, krisis tersebut membuat jatuhnya bursa saham dan nilai tukar rupiah merosost. Meskipun badai krisis global telah menghantam perekonomian kita serta perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia, tetapi jangan sampai membuat perusahaan-perusahaan di Indonesia untuk sedikit mengabaikan dan mengurangi fokus pada peningkatan keahlian dan kemampuan SDM melalui training pelatihan dan pengembangan. training yang diadakan harus dipilih selektif dan dengan metode yang di desain secara tepat, sehingga benar-benar dapat memberi nilai tambah bagi karyawan dan perusahaan.
Perusahaan perlu mengetahui sejauhmana kontribusi training tersebut terhadap perubahan atau peningkatan kinerja karyawan secara keseluruhan. Untuk itu, perlu dilakukan suatu evaluasi untuk mengukur sejauhmana efektifitas dari training tersebut terhadap tujuan yang ingin dicapai. Harus diketahui hasilnya, dampaknya, dan tingkat pengembaliannya atau return on training investment-nya.
Untuk mengetahui seberapa besar hasil, dampak, dan tingkat pengembalian investasi pada training, dimana jumlah keseluruhan keuntungan secara finansial yang diperoleh perusahaan dari program training dikurangi dengan keseluruhan biaya investasi yang dikeluarkan untuk membangun, menghasilkan dan melaksanakan program training serta kembali dibagi dengan biaya keseluruhan investasi yang dikeluarkan untuk membangun, menghasilkan dan melaksanakan progrm pelatihan. maka dilakukan suatu formulasi pengukuran yang disebut dengan Return On Training Investment (ROTI). Evaluasi training dapat dilakukan dalam lima tahapan dengan penjelasan sebagai berikut :
• Level 1 : Reaction Evaluasi training pada tingkat ini bertujuan untuk mengukur bagaimana reaksi kepuasan peserta training terhadap program training yang diikuti berdasarkan persepsi dan apa yang dirasakan oleh peserta. Hal-hal yang diukur adalah materi training, fasilitator, dan fasilitas training.hal-hal yang dievaluasi pada level ini antara lain mengenai materi training, instruktur / trainer, fasilitas training yang tersedia, waktu penyelenggaraan, dan metode yang digunakan. Pengukuran pada level ini dapat dilakukan dilakukan melalui pengumpulan data kuantitatif dan pengumpulan data kualitatif. Pengumpulan data kuantitatif dilakukan melalui survey dengan menggunakan form kuesioner dengan menggunakan skala pengukuran interval (skala linkert). Sedangkan pengumpulan data kualitatif dapat dilakukan dengan metode pengumpulan data wawancara atau Focus Group Discussion (FGD) dengan cara mengambil beberapa sampling dari para peserta training. Adapun kriteria penilaian setelah pemrosesan data kuantitatif selesai dilakukan : • Nilai 4,01 s/d 5, artinya kepuasan karyawan sangat tinggi terhadap training yang diselenggarakan. • Nilai 3,01 s/d 4, artinya kepuasan karyawan tinggi terhadap training yang diselenggarakan. • Nilai 2,01 s/d 3, artinya kepuasan karyawan biasa saja terhadap training yang diselenggarakan. • Nilai 1,01 s/d 2, artinya kepuasan karyawan rendah terhadap training yang diselenggarakan. • Nilai 0 s/d 1, artinya kepuasan karyawan sangat rendah terhadap training yang diselenggarakan. Adapun beberapa manfaat yang dapat diperoleh dalam melakukan evaluasi pada level ini, yaitu : - Memberikan umpan balik (feedback) yang berguna bagi penyempurnaan penyelenggaraan training berikutnya. - Jika peserta tidak ditanya reaksinya maka dengan kata lain pihak penyelenggara akan merasa paling tahu dan sudah merasa benar dalam menyelenggarakan training. - Memberikan informasi kuantitatif yang dapat menjadi masukan bagi para manajer ataupun pihak lain yang berkepentingan dengan program training tersebut. - Memberikan informasi yang berharga bagi trainer dalam meningkatkan kinerjanya pada program training berikutnya.
• Level 2 : Learning Mengukur seberapa jauh dampak dari program training yang diikuti peserta dalam hal peningkatan pengetahuan, keahlian dan perilaku mengenai suatu hal yang dipelajari dalam training. Dsts evaluasi diperoleh dengan membandingkan hasil dari pengukuran sebelum training (pre-test) dan sesudah training (post-test). Data yang dikumpulkan pada level ini berupa data kuantitatif dengan metode pengumpulan data melalui survey dengan formal tes , yang terdiri atas : 1. Tes tertulis Merupakan pengukuran dengan menggunakan tes tertulis sebelum training (pre-test) dan sesudah training (post-test), dimana tes yang diberikan berupa pertanyaan seputar training yang diikuti. Adapun bentuk pertanyaan yang diajukan dalam bentuk essai ataupun multiple choice. 2. Tes keterampilan / keahlian Tes ini dilakukan apabila materi training yang diberikan berhubungan langsung dengan perangkat kerja. Pada tes ini dapat dilihat langsung bagaimana peserat training menggunakan perangkat kerja yang ada. 3. Tes sikap dan perilaku. Tes ini digunakan dalam rangka mengukur soft skill seseorang, misalnya : bagaimana cara mengelola orang, bagaimana cara melakukan negosiasi, bagaimana teamwork dll.
• Level 3 : Application / Behavior Evaluasi training dilakukan untuk mengetahui apakah ketiga domain kompetensi (keahlian / keterampilan, pengetahuan dan sikap) yang baru sebagai dampak dari program training dapat dimanfaatkan dan diaplikasikan di dalam perilaku kerja sehari-hari dan berpengaruh secara signifikan terhadap pencapaian sasaran kerja individu dan organisasi. Adapun data historis kinerja / kompetensi peserta training sebelum dan sesudah training dilaksanakan dapat diperoleh dari hasil performance appraisal ataupun competencies assesment. Evaluasi pada level ini tidak cukup hanya sekedar mengukur perubahan yang terjadi pada behavior peserta pasca training, namun lebih jauh lagi perlu di evaluasi pula sejauhmana perubahan yang terjadi dapat diterapkan dalam praktek kerja sehari-hari. Kadangkala perubahan yang dialami peserta pasca pelatihan berupa peningkatan keahlian / keterampilan, pengetahuan dan sikap pada kenyataannya tidak membawa pengaruh besar ketika dicoba diterapkan dalam dunia pekerjaan. Hal ini disebabkan adanya faktor-faktor non training yang menjadi penghambat seperti sistemm operasional yang kuurang handal, lingkungan kerja yang kurang kondusif, dan sebagainya.
• Level 4 : Result / Business Impact Mengukur keberhasilan program training dari sudut pandang bisnis dan organisasi. Bagaimana hasil training berpengaruh terhadap peningkatan kinerja eks peserta training, unit kerja, maupun perusahaan secara keseluruhan. Adapun alat ukur yang biasa dipakai adalah kuantitas, kualitas, waktu, habit, cost dan customer satisfaction yang ditingkatkan / diturunkan peserta training.
• Level 5 : ROTI ( Return On Training Investment ) Pengukuran ROTI ( Return On Training Investment ) dilakukan untuk mengetahui pengembalian investasi yang telah dikeluarkan untuk training dengan formulasi perhitungan sebagai berikut :
ROTI = Net Benefits of Training / Costs of Training x 100 %.
Atau
ROTI (%) = Total Keuntungan – Total Biaya : Total Biaya x 100.